
Spasi-id, Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Teheran secara resmi mengajukan tujuh syarat ketat kepada Washington.
Iran menyampaikan tujuh syarat kepada Amerika Serikat (AS) yang harus dipenuhi sebelum Teheran membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran secara normal.
Informasi tersebut disampaikan oleh sumber yang mengetahui persoalan tersebut kepada kantor berita Iran, Tasnim, pada Minggu (13/9/2026). Sumber itu menyebut Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai seluruh persyaratan yang telah disetujui pejabat tinggi Iran dipenuhi.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.
Kesepakatan Iran-Oman Belum Berarti Jalur Dibuka
Perkembangan tersebut muncul setelah Iran dan Oman membahas pengaturan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Namun, kesepakatan antara Teheran dan Muscat tidak secara otomatis berarti Selat Hormuz akan segera dibuka sepenuhnya. Reuters melaporkan bahwa pengaturan tersebut lebih diarahkan pada kemungkinan pembentukan koridor pelayaran dan mekanisme pengelolaan lalu lintas kapal. Iran tetap mensyaratkan pemenuhan tuntutannya oleh AS sebelum membuka kembali jalur tersebut.
Pertemuan antara Iran dan sejumlah negara Teluk yang semula dijadwalkan berlangsung di Oman pada Senin (14/9) juga ditunda. Menteri Luar Negeri Oman mengatakan penundaan dilakukan untuk memberikan ruang bagi tercapainya konsensus di antara negara-negara yang terlibat.
Dengan demikian, harapan akan tercapainya kesepakatan cepat mengenai pembukaan Selat Hormuz kembali menghadapi ketidakpastian.
Lalu Lintas Kapal Masih Terbatas
Gangguan terhadap pelayaran telah memberikan tekanan terhadap perdagangan energi global.
Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintas di Selat Hormuz turun ke level satu digit per hari pada akhir pekan, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebelumnya yang mencapai sekitar 14 kapal per hari. Angka tersebut belum memperhitungkan kapal yang mungkin mematikan sistem pelacakan otomatisnya.
Situasi semakin rumit setelah sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil ketika melintas di kawasan Selat Hormuz. Insiden tersebut menyebabkan kebakaran dan memaksa awak kapal dievakuasi, menurut badan keamanan maritim Inggris UKMTO yang dikutip Reuters.
Iran juga melaporkan sebuah kapal komersial Iran terkena serangan di lepas pantai negara tersebut. Satu orang dilaporkan tewas dan sejumlah awak mengalami luka-luka.
Harga Minyak Kembali Tertekan
Ketidakpastian di Selat Hormuz datang bersamaan dengan gangguan terhadap jalur energi lain di kawasan Timur Tengah.
Reuters melaporkan harga minyak melonjak lebih dari 3% pada Senin (14/9) setelah serangan Houthi terhadap Arab Saudi turut mengganggu salah satu jalur distribusi minyak utama negara tersebut.
Arab Saudi untuk sementara menghentikan operasi pipa timur-baratnya yang menjadi salah satu jalur alternatif untuk mengirimkan minyak tanpa melewati Selat Hormuz.
Jika gangguan tersebut berlangsung lebih lama, persediaan minyak di pelabuhan Laut Merah Arab Saudi diperkirakan hanya cukup untuk mempertahankan ekspor selama sekitar lima hingga tujuh hari. Reuters memperkirakan hingga 4% pasokan minyak global berpotensi terdampak apabila gangguan pada pipa tersebut berlangsung berkepanjangan.
Titik Kritis Pasar Energi Dunia
Bagi pasar global, perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian karena jalur tersebut merupakan salah satu titik paling penting dalam distribusi minyak dan gas.
Semakin lama lalu lintas kapal terganggu, semakin besar pula risiko kenaikan biaya pengiriman, premi risiko energi, serta harga minyak mentah di pasar internasional.
Di sisi lain, pembukaan kembali Selat Hormuz tidak hanya bergantung pada pengaturan teknis pelayaran antara Iran dan Oman. Teheran secara tegas mengaitkan pembukaan jalur tersebut dengan pemenuhan tuntutan terhadap Amerika Serikat.
Artinya, perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kapan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali normal.
Untuk sementara, pasar energi global masih harus menghadapi ketidakpastian. Jika negosiasi kembali menemui jalan buntu dan gangguan pelayaran berlangsung lebih lama, tekanan terhadap harga minyak dan biaya energi berpotensi semakin besar.
